Metode kalkulasi konsumsi benang jahit

Metode penghitungan jumlah benang jahit. Seiring kenaikan harga bahan baku tekstil, harga benang jahit khususnya benang jahit high end juga ikut naik. Namun, metode penghitungan jumlah benang jahit yang digunakan oleh perusahaan sandang saat ini sebagian besar diperkirakan berdasarkan pengalaman produksi. Sebagian besar perusahaan sering kali kelebihan pasokan benang jahit, membuka pasokan, dan tidak menyadari nilai pengelolaan benang jahit.

1. Cara kalkulasi konsumsi benang jahit
Penghitungan jumlah benang jahit diperoleh dengan metode estimasi yang umum digunakan oleh perusahaan, yaitu panjang garis jahitan diukur melalui perangkat lunak CAD, dan panjang total dikalikan dengan koefisien (umumnya 2,5 hingga 3 kali lipat. total panjang jahitan).
Konsumsi jahitan pakaian = jumlah konsumsi jahitan semua bagian pakaian × (1 + tingkat gesekan).

Metode estimasi tidak dapat secara akurat mendapatkan jumlah benang jahit. Ada dua metode ilmiah untuk menghitung jumlah benang jahit:

1. Metode rumus
Prinsip metode rumusnya adalah dengan menggunakan metode panjang kurva geometris matematis untuk struktur jahitan, yaitu mengamati bentuk geometris dari kumparan yang saling bersilangan pada bahan jahit, dan menggunakan rumus geometris tersebut untuk menghitung konsumsi a garis lingkaran.

Hitung panjang lingkaran jahitan (termasuk panjang lingkaran jahitan + jumlah benang yang digunakan pada persimpangan jahitan), lalu ubah menjadi jumlah jahitan per meter jahitan, lalu kalikan dengan panjang jahitan keseluruhan. dari garmen.

Metode rumus mengintegrasikan faktor-faktor seperti kepadatan jahitan, ketebalan bahan jahit, jumlah benang, lebar celah overlock, dan panjang jahitan. Oleh karena itu, metode rumus merupakan metode yang lebih akurat, tetapi relatif rumit untuk digunakan. Spesifikasi, gaya, teknik menjahit, ketebalan bahan jahit (kain abu-abu), jumlah benang, kerapatan jahitan, dll sangat berbeda, yang menyebabkan terlalu banyak ketidaknyamanan dalam perhitungan, sehingga pada dasarnya perusahaan tidak menggunakannya.

2. Rasio panjang garis jahitan
Rasio panjang garis jahitan, yaitu rasio panjang jahitan jahitan jahitan dengan panjang jahitan yang dipakai. Rasio ini dapat ditentukan menurut produksi aktual atau dihitung menurut metode rumus. Ada dua metode pengujian: metode panjang jahitan dan metode panjang jahitan.
Metode fiksasi panjang jahitan: Sebelum menjahit, ukur panjang jahitan tertentu pada garis pagoda dan tandai warnanya. Setelah menjahit, ukur jumlah jahitan yang dibentuk oleh panjang ini untuk menghitung panjang jahitan per meter. Konsumsi garis jejak.
Metode panjang jahitan jahit: pertama-tama gunakan bahan jahit dengan ketebalan berbeda untuk menjahit, kemudian potong bagian tersebut dengan bentuk jahitan yang lebih baik, bongkar jahitannya dengan hati-hati, ukur panjangnya atau timbang beratnya, lalu hitung Jumlah benang yang digunakan per meter jahitan (panjang atau berat).

2. Pentingnya perhitungan dosis yang akurat:
(1) Jumlah benang jahit yang digunakan merupakan faktor penting bagi perusahaan untuk menghitung harga pokok produksi sandang;
(2) Menghitung jumlah benang jahit yang digunakan dapat mengurangi limbah dan backlog jahitan. Mengurangi jumlah benang jahit dapat menghemat area persediaan perusahaan dan mengurangi tekanan persediaan, sehingga mengurangi biaya produksi dan memaksimalkan margin keuntungan;
(3) Pelaksanaan asesmen konsumsi benang jahit dapat meningkatkan kesadaran karyawan terhadap spesifikasi dan kualitas jahit;
(4) Dengan menghitung jumlah benang jahit, pekerja dapat diingatkan untuk mengganti benang tepat waktu. Jika jahitan tidak diperbolehkan pada jahitan terbuka seperti jeans, jumlah benang yang digunakan harus dihitung dengan hati-hati untuk mengurangi kelebihan jahitan yang disebabkan oleh jahitan yang tidak mencukupi, sehingga meningkatkan Produktivitas;
Karena “rasio panjang jahitan” relatif sederhana untuk menghitung jumlah benang jahit, dan hasil perhitungannya akurat, ini banyak digunakan di pabrik pakaian.

3. Faktor yang mempengaruhi jumlah benang jahit
Besarnya pemakaian benang jahit tidak hanya berkaitan erat dengan panjang jahitan, tetapi juga terkait erat dengan faktor-faktor seperti ketebalan dan lilitan benang jahit itu sendiri, struktur dan ketebalan kain, serta kepadatan jahitan selama proses menjahit. .

Namun variabilitas dan fleksibilitas yang sebenarnya membuat hasil perhitungan benang jahit memiliki deviasi yang besar. Faktor pengaruh utama lainnya adalah:
1. Elastisitas kain dan benang: Bahan jahit dan jahitannya memiliki tingkat elastisitas tertentu. Semakin besar deformasi elastis, semakin besar pengaruhnya terhadap perhitungan jumlah jahitan. Agar hasil penghitungan lebih akurat, perlu ditambahkan koefisien koreksi untuk penyesuaian pada kain abu-abu tebal dan tipis dengan struktur organisasi khusus dan jahitan dari bahan khusus.
2. Output: Dalam kasus volume produksi yang besar, dengan meningkatnya kecakapan pekerja secara bertahap, proporsi kerugian akan relatif berkurang.
3. Finishing: Mencuci dan menyetrika kain atau garmen akan menyebabkan masalah penyusutan garmen, yang perlu ditingkatkan atau dikurangi secara tepat.
4. Karyawan: Dalam proses penggunaan jahitan, karena perbedaan kebiasaan operasi karyawan, kesalahan manusia dan konsumsi disebabkan. Konsumsi ditentukan sesuai dengan status teknis dan pengalaman aktual pabrik, dan limbah ini dapat dikurangi melalui panduan pengoperasian yang benar.
Persaingan di industri pakaian menjadi semakin sengit. Perusahaan harus memiliki metode perhitungan benang jahit yang sesuai untuk membantu mengelola benang jahit dan memberikan referensi untuk menghemat biaya produksi.


Waktu posting: Apr-01-2021